Desember 2017
Bertemu lagi dengan januari
aku harap bibir ini tak kunjung berhenti untuk berseri.
Semoga laki-laki tak terus menerus menyakiti hati ini.
Bulan akhir ditahun 2017 kemarin adalah salah satu cerita yang menamparku sangat keras.
Dia; yang dulu pernah aku tinggal, ia kembali dengan wajah sumringah itu.
Masa laluku kembali.
Akhirnya aku bisa berdamai dengan masa lalu, denganmu. Katamu.
Tepat saat kamu berulang tahun, aku tak lupa mengirim selamat atas umurmu yang berkurang. Akupun tak pernah berharap apapun setelah kejadian meninggalkanmu itu terjadi. Hanya tahu bahwa ada perempuan yang sudah aku anggap adik itu dekat denganmu. Sekiranya aku hanya bisa berharap yang terbaik. Tak lama, kalian berpisah. Dan tak lama, kita kembali menjalani yang pernah kita jalani kala itu.
Aku jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Tak habis fikir, kamu bisa membuatku merasa bahagia lagi seperti kala itu. Atmosfir nyaman itu kembali dibuat oleh mu, oleh kita. Menghabiskan malam sampai kamu bukan mengkhawatirkan aku, malah Ibu yang tak aku kunjung beri kabar. Tak cukup hari itu, keesokan harinya kita bertemu lagi. Kamu pulang lebih awal karna sudah tidak pulang kerumah selama dua hari.
Jangan pulang terlalu larut. Kabari aku jika sudah dirumah. Aku pulang, ya. Begitu katamu.
Setelah sampai rumah, tugas pertama selain memasukkan motor ke garasi adalah mengabarimu bahwa aku sudah sampai dengan selamat mengendarakan motor kesayanganku.
Aku baru sampai dirumah. Sabar, biar aku bersih-bersih sebentar.
10 menit
..
...
....
15menit
Sudah selesai? Bagaimana? Apa segar?
Lumayan. Oh iya, aku lupa mencium keningmu sebelum aku pulang. Maaf, ya.
Kata-kata itu masih terbayang sampai detik dimana aku menulis ini. Betapa aku merindukan pribadi jenakamu itu.
Suatu hari, ada telfon masuk darimu. Terheran, aku segera mengangkat telfon itu.
Halo? Ada apa? Tumben?
Tidak apa-apa. Memangnya salah aku menelfonmu? Apa aku mengganggu?
Tidak. Hanya heran saja. Ada apa, sayang?
Mungkin aku merindu.
Suatu ketika aku menerima pesan yang horror darimu.
Sedang dimana?
Dirumah teman, kenapa?
Telfon aku jika sudah dirumah, ya.
Ada apa?._.
Tidak ada apa-apa. Hanya ingin ngobrol sebentar.
Fikiran buruk itu terus bergentayangan.
Ya, halo, assalamualaikum?
Iya, waalaikumsalam
Ada apa? Aku sudah dirumah.
iya, mau ngomong sesuatu. Aku udah gabisa lagi sama kamu...
Oh, okey?
iya aku udah coba, tapi gabisa. Gabisa senyaman dulu. Aku minta maaf.
..........
sorry, maafin?
Iya gapapa, udah kepikiran juga sih kalau bakal kayak gini.
Lagian mau gimana. Mau nahan juga aku gabisa.
aku gabisa bohongin perasaan aku. Aku gamau bohongin kamu juga. Aku mau kita baik-baik aja. Ya?
Kemudian aku menghela nafas.
Terjadi lagi yang kayak gini. Aku kira kemarin yang terakhir. Ternyata kamu..... Ah sudahlah.
Yasudah, maaf telah mengganggu waktu istirahat-
Ah apa sih. Lebay banget. Yayaya-
Terimakasih untuk semuanya. Sekali lagi maaf y-
Yayaya.
Segera aku tutup telfon darimu. Yang dimana sudah ada bibit ingin banjir kala itu.
aku harap bibir ini tak kunjung berhenti untuk berseri.
Semoga laki-laki tak terus menerus menyakiti hati ini.
Bulan akhir ditahun 2017 kemarin adalah salah satu cerita yang menamparku sangat keras.
Dia; yang dulu pernah aku tinggal, ia kembali dengan wajah sumringah itu.
Masa laluku kembali.
Akhirnya aku bisa berdamai dengan masa lalu, denganmu. Katamu.
Tepat saat kamu berulang tahun, aku tak lupa mengirim selamat atas umurmu yang berkurang. Akupun tak pernah berharap apapun setelah kejadian meninggalkanmu itu terjadi. Hanya tahu bahwa ada perempuan yang sudah aku anggap adik itu dekat denganmu. Sekiranya aku hanya bisa berharap yang terbaik. Tak lama, kalian berpisah. Dan tak lama, kita kembali menjalani yang pernah kita jalani kala itu.
Aku jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Tak habis fikir, kamu bisa membuatku merasa bahagia lagi seperti kala itu. Atmosfir nyaman itu kembali dibuat oleh mu, oleh kita. Menghabiskan malam sampai kamu bukan mengkhawatirkan aku, malah Ibu yang tak aku kunjung beri kabar. Tak cukup hari itu, keesokan harinya kita bertemu lagi. Kamu pulang lebih awal karna sudah tidak pulang kerumah selama dua hari.
Jangan pulang terlalu larut. Kabari aku jika sudah dirumah. Aku pulang, ya. Begitu katamu.
Setelah sampai rumah, tugas pertama selain memasukkan motor ke garasi adalah mengabarimu bahwa aku sudah sampai dengan selamat mengendarakan motor kesayanganku.
Aku baru sampai dirumah. Sabar, biar aku bersih-bersih sebentar.
10 menit
..
...
....
15menit
Sudah selesai? Bagaimana? Apa segar?
Lumayan. Oh iya, aku lupa mencium keningmu sebelum aku pulang. Maaf, ya.
Kata-kata itu masih terbayang sampai detik dimana aku menulis ini. Betapa aku merindukan pribadi jenakamu itu.
Suatu hari, ada telfon masuk darimu. Terheran, aku segera mengangkat telfon itu.
Halo? Ada apa? Tumben?
Tidak apa-apa. Memangnya salah aku menelfonmu? Apa aku mengganggu?
Tidak. Hanya heran saja. Ada apa, sayang?
Mungkin aku merindu.
Suatu ketika aku menerima pesan yang horror darimu.
Sedang dimana?
Dirumah teman, kenapa?
Telfon aku jika sudah dirumah, ya.
Ada apa?._.
Tidak ada apa-apa. Hanya ingin ngobrol sebentar.
Fikiran buruk itu terus bergentayangan.
"Eh, gimana ya? Kalau dia nelfon bilang kayak yang si kemarin itu bilang, gimana??"
'sudah, kak. Jangan nethink. Tenang aja.'
'sudah, kak. Jangan nethink. Tenang aja.'
Ternyata firasatku benar saja.
Ya, halo, assalamualaikum?
Iya, waalaikumsalam
Ada apa? Aku sudah dirumah.
iya, mau ngomong sesuatu. Aku udah gabisa lagi sama kamu...
Oh, okey?
iya aku udah coba, tapi gabisa. Gabisa senyaman dulu. Aku minta maaf.
..........
sorry, maafin?
Iya gapapa, udah kepikiran juga sih kalau bakal kayak gini.
Lagian mau gimana. Mau nahan juga aku gabisa.
aku gabisa bohongin perasaan aku. Aku gamau bohongin kamu juga. Aku mau kita baik-baik aja. Ya?
Memangnya kamu mau aku yang kayak gimana?
Mau kamu yang kayak biasa. Asik main ngobrol sambil ngopi.
Ya, i hope so. Aku kan enggak tau, kalau nanti aku ketemu kamu terus mood aku jelek, gimana?
Ya jangan kayak gitu, lah! Aku kan mau kita baik-baik aja.
Kamu kan yang inginnya kayak gitu. Lah, aku? Memangnya aku bisa baik-baik aja setelah kamu giniin aku?
Maafin...sorry. aku gak pernah kayak gini soalnya.
Yasudah, mau gimana. Aku juga gabisa apa-apa.
Mau kamu yang kayak biasa. Asik main ngobrol sambil ngopi.
Ya, i hope so. Aku kan enggak tau, kalau nanti aku ketemu kamu terus mood aku jelek, gimana?
Ya jangan kayak gitu, lah! Aku kan mau kita baik-baik aja.
Kamu kan yang inginnya kayak gitu. Lah, aku? Memangnya aku bisa baik-baik aja setelah kamu giniin aku?
Maafin...sorry. aku gak pernah kayak gini soalnya.
Yasudah, mau gimana. Aku juga gabisa apa-apa.
Kemudian aku menghela nafas.
Terjadi lagi yang kayak gini. Aku kira kemarin yang terakhir. Ternyata kamu..... Ah sudahlah.
Yasudah, maaf telah mengganggu waktu istirahat-
Ah apa sih. Lebay banget. Yayaya-
Terimakasih untuk semuanya. Sekali lagi maaf y-
Yayaya.
Segera aku tutup telfon darimu. Yang dimana sudah ada bibit ingin banjir kala itu.
Sebuah cerita dimana aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Itu saja. Karma does exist. Kemarin aku meninggalkannya. Sekarang ia yang meninggalkanku. Dengan ia kembali pun, tak semerta-merta membuat semua itu kembali berseri, kembali indah, kembali mahsyur, kembali seperti dulu.
Tolong bangunkan aku dan teriakkan bahwa ini sudah tahun 2018 dan aku harus segera bangun dari keterpurukan ini. Disetiap awal tahun, aku akan selalu menjadi pribadi yang melankolis dan pemikir yang keras.
Apa aku harus menjadi yang egois? Atau harus trauma? Harus menutup diri?
“aku harus apa?”
Tolong bangunkan aku dan teriakkan bahwa ini sudah tahun 2018 dan aku harus segera bangun dari keterpurukan ini. Disetiap awal tahun, aku akan selalu menjadi pribadi yang melankolis dan pemikir yang keras.
Apa aku harus menjadi yang egois? Atau harus trauma? Harus menutup diri?
“aku harus apa?”
Comments
Post a Comment